I have imagined that paradise will be a kind of library!
(Jorge Luis Borges)

(Foto oleh Hamdan Avivi)

Beberapa waktu lalu, saya diberi kesempatan untuk berbagi proses kreatif menulis dengan para guru Bahasa dan Sastra Indonesia se-Kabupaten Cirebon. Selain saya, juga ada Leak Sosiawan (penyair Solo) dan Nurdin M. Noer (wartawan senior Cirebon) sebagai pembicara. Dua orang yang disebut terakhir ini adalah sesepuh yang sudah malang melintang di jagat warta dan susastra –setidaknya di Cirebon.
Ketika saya datang, para guru itu sontak langsung mengeluarkan secarik kertas dan pena untuk mencatat. Mereka seperti bersiap menerima inspirasi dan pengetahuan menulis dalam jumlah berapa giga-byte sekalipun. Saya menangkap sepercik ketulusan dan kesungguhan yang memancar dari wajah-wajah ikhlas itu.
Hal itu membuat saya kikuk. Materi yang disiapkan sejak semalam spontan buyar. Saya merasa kurang pantas duduk di depan untuk “menggurui” mereka perihal dunia baca dan tulis-menulis. Sedangkan 20 tahun silam saya sanggup mengenal A-B-C-D justru dari mata air pengetahuan yang mengalir dari kearifan mereka. Sejak merah putih masih menjadi seragam setia.
Maka saya-pun buang kertas materi berisi tujuh halaman itu. Alih-alih menyampaikan materi, saya justru mengajak beliau-beliau untuk membuka sesi dialog. Dialog perihal apa saja. Tak hanya terbatas ihwal sastra dan peningkatan mutu membaca dan berkarya siswa. Saya sedang mencoba menjadi pendengar yang baik.
 

(Sarasehan Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)

Dari sekian panjang sesi dialog itu membuhul pernyataan salah seorang guru yang menarik perhatian. “Lingkungan pendidikan kita masih belum memungkinkan lahirnya guru yang sekaligus sastrawan. Kebebasan berekspresi yang menjadi prasyarat melahirkan karya, masih terbentur dengan ketatnya tembok birokrasi pendidikan yang dalam beberapa hal masih kaku dan membelenggu.”, ujar salah satu guru.
Itu keluhan para guru perihal dilematisnya posisi mereka sebagai guru bahasa dan sastra. Lalu bagaimana dengan siswa? Saat membahas tentang bagaimana cara meningkatkan ketertarikan siswa pada budaya tulis dan baca, para guru itu serempak diam. Mereka memberi kesempatan itu sepenuhnya pada saya. Dengan terbata dan pengalaman seadanya, sembari menunggu dua pembicara lain datang, inilah beberapa pengalaman yang saya utarakan.

Literasi

Saya bukan guru bahasa dan sastra dalam arti harfiah. Saya lebih suka jika disebut sebagai petani literasi. Panggilan hidup membawa saya untuk mencintai dunia ini dari dulu hingga kini. Maka dari itu sejak tahun 2013, walau tanpa lembaga yang menaungi, tanpa sponsor yang membiayai, saya aktif bergerilya ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, maupun pesantren. Saya mengkampanyekan pentingnya dunia literasi yang melingkupi: membaca, menulis, dan dokumentasi. Awalnya saya hanya ingin membangun Rumah Baca mini yang bisa diakses siapapun secara gratis. Tapi ternyata langkah itu kurang efektif. Menunggu para pelajar dan mahasiswa meminjam koleksi buku ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. 

Saya pun memutuskan untuk menjemput bola. Saya datangi sekolah-sekolah lanjutan, perguruan tinggi, dan pesantren di daerah penulis: Cirebon. Betapa kagetnya ketika melihat fakta 90% ekstra kurikuler berupa Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan Jurnalistik di sekolah-sekolah di Kabupaten Cirebon nasibnya begitu menggiriskan. Keberadaan kedua ekskul itu tak lebih dari sekadar papan nama belaka. 

Dari titik itulah, pada 10 Oktober 2013 Serikat Penulis Pelajar (SPP) resmi berdiri. SPP adalah wadah bagi para pelajar SD, SLTP, SLTA yang hendak mengabadikan hidupnya dalam deret aksara. Pasantren pun menyusul dengan bendera Bilik Aksara Santri (BAS). Berikutnya perguruan tinggi juga tak ingin kalah. Di perguruan tinggi Cirebon saya menginisiasi lahirnya komunitas literasi Aksara Nagari (AN) dan di Kuningan berupa Petani Li-Terasi (PL). Kesemua organ itu telah bertekad menjadikan dirinya sebagai petani-petani literasi yang akan mewarnai gerak laju sejarah dengan pena. 

Kegiatan rutin SPP dilakukan setiap hari Sabtu, sedangkan BAS setiap hari Jumat. Aksara Nagari hari Kamis dan Petani Li-Terasi setiap hari Minggu. Dari mulai diskusi materi menulis, bedah film, kiat menulis berita, literasi media, dunia fotografi dan desain, hingga me-review buku-buku terbaru yang kami anggap asyik. Hasil dari pertemuan-pertemuan itu kami dokumentasikan dengan baik. Saya juga mengajak media lokal untuk membuat rubrikasi yang khusus menampung karya dari para petani literasi pemula ini. Agar para petani literasi pemula itu merasa termotivasi dan karyanya terapresiasi dengan baik.
 
Siswa
Di rumah, tiap maghrib menjelang terselenggara pengajian anak-anak kecil yang digagas ayah. Peserta pengajian itu rerata anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dalam waktu enam hari ngaji, murid-murid diberi alokasi khusus dua hari untuk mengakrabi dunia literasi. Saya mewajibkan mereka untuk membaca satu buku setiap minggunya. Mengenai pilihan buku apa yang hendak dibaca, itu menjadi hak preogratif mereka.
 

(Senyum Ceria/foto oleh Hamdan Avivi)

Saya hanya perlu merelakan perpustakaan pribadi saya diacak-acak oleh anak-anak lucu tersebut. Hanya saja, dari sekian banyak buku, ada dua item yang kerap menjadi pilihan mereka: a) buku cerita dan b) buku puisi. Baik buku cerita para Nabi, sejarah Indonesia, sejarah lokal Cirebon, cerita para penemu dunia, dan sebagainya. Untuk puisi, mereka menyukai buku-buku puisi terbitan para santri Lirboyo dan Sidogiri.

 

(Berlatih Menilai Sebuah Buku Puisi)

Setelah membaca, di minggu berikutanya, para murid mengaji itu dipersilakan untuk memberikan penilaian terhadap buku tersebut secara bergiliran di depan murid ngaji yang lain. Baik secara lisan maupun tulisan. Saya tak terlalu memaksakan mereka untuk menulis (rangkuman buku, misalnya). Bagi saya, mereka sudah mau membaca dan memahami dengan baik isi buku saja itu sudah merupakan anugerah yang tak terkira.
“Bukunya baguuuuus sekali”, “Saya cinta para pahlawan negeri ini”, “Kasihan ya Sultan Shofiudin (Raja Keraton Kasepuhan) dikhianati pamannya sendiri”, “Cita-cita saya kelak ingin menjadi seperti Nabi Khidir”, “Apakah nama bapak meniru nama penyair besar Chairil Anwar?”, “Ah, bukunya jelek. Padahal sampulnya bagus”, “Thomas Alfa Edison hebat sekali ya?”, “Bahasanya sulit dicerna”, itu di antara beberapa komentar mereka perihal buku yang telah dibaca.
Saya membebaskan imajinasi mereka untuk menilai sebuah buku. Sengawur apapun komentarnya, bagi saya itu adalah indikasi yang baik untuk melatih mereka mengemukakan pendapat secara merdeka. Masalah objektivitas dan kemendalaman mencerna suatu buku, saya kira ini belum saatnya. Hanya saja, khusus untuk bahasa, saya mengajarkan mereka disiplin berbahasa sejak belia. Caranya adalah dengan memberi fotokopi-an secara rutin beberapa kata atau lema dalam kamus bahasa Indonesia maupun bahasa daerah yang musykil ditemui di kehidupan nyata. Hal itu, sungguh, membuat pembendaharaan bahasa mereka kian cakap dan kaya.
 

(Buku adalah Jendela Dunia)

Untuk memancing mereka menulis, sesekali saya dan istri menyelenggarakan lomba menulis kecil-kecilan dengan hadiah yang tak seberapa tapi bermakna. Semisal, saat ini kami sedang menggagas lomba menulis puisi Hari Santri untuk semua murid ngaji dari berbagai kelas. Hadiahnya berupa buku tulis, buku bacaan, pulpen, peci, kerudung, dan beberapa makanan ringan yang bisa dimakan bersama-sama. Saya hendak mengajarkan mereka berkompetisi tanpa harus melupakan hangatnya kebersamaan.

(Melatih Keberanian Berpendapat Sejak Belia)


Kumpulan puisi itu (baik yang menang maupun kalah) jika sudah terkumpul akan saya terbitkan secara swadaya melalui penerbit seorang teman baik yang mempunyai kesungguhan dalam dunia sunyi literasi. Setelah terbit, saya bagikan pada mereka secara cuma-cuma. Percayalah, yang demikian akan kian menggelorakan semangat mereka untuk membaca dan menulis lebih baik lagi. Sebab yang lebih penting dari semangat membaca dan menulis, adalah semangat mengapresiasi sebuah karya.

Dengan cara seperti ini, adrenalin mereka untuk berkarya senantiasa hidup dan menginspirasi. Bahkan salah satu murid ngaji itu kini sudah ada yang menerbitkan kumpulan puisi secara mandiri di sebuah penerbit dan dicetak secara massif. Pencapaian ini sedikit banyak menginspirasi teman-teman lainnya untuk melakukan hal yang sama atau bahkan lebih baik lagi.
 

(Karya Murid Ngaji)

Saya tancapkan keyakinan pada tunas muda itu bahwa tradisi literasi adalah syarat mutlak jika sebuah bangsa hendak maju. Sebab, membaca adalah proses agar kita tak mengidap penyakit laten amnesia sejarah, dan menulis merupakan perangkat lunak supaya kita senantiasa memperbaharui sejarah dan mendokumentasikannya dengan baik. Saya juga percaya membaca dan menulis, merupakan pondasi kokoh agar suatu daerah sanggup berkembang dengan baik.
Jujur, saya kagum dengan Jawahral Nehru yang membangun perpustakaan National Book Trust dan Sahitya Academy di India. Melalui perpustakaan itu, ia merancang program pengentasan angka buta huruf. Berkat keberhasilannya, ia mendapat ganjaran dari UNESCO berupa UNESCO’s Noma Literacy Prize pada tahun 1999. Saya juga takjub dengan Thomas Jefferson, penulis The Declaration of Independence AS yang mendirikan The Library of Congress. Dari perpustakaan itulah, Paman Sam banyak memacak sejarah-sejarah gemilangnya. 
Saya jugairi dengan Dik Doank yang membangun rumah baca Kandang Jurang Doank untuk mengedukasi dan memberdayakan anak-anak jalanan yang tak mampu. Begitu jugadengan Gola Gong, yang bisa membuat gerakan literasi Rumah Dunia dari hasil urunan para TKI-TKW di tempatnya hidup: Serang, Banten. Karena ulahnya yang membuat Rumah Dunia, kini Serang menjadi daerah yang menggeliat budaya baca tulis-nya.

Di atas semuanya, saya percaya literasi-lah yang akan memajukan suatu peradaban. Dan saya sadar, negeri ini masih dikerubuti penyakit tuna-baca, tuna-tulis dan tuna-dokumentasi. Kita baru terlepas dari endemi penyakit tuna-aksara, tapi belum juga bisa mentas dari ketiga penyakit kronis lanjutannya itu. Langkah semacam ini mungkin klise dan biasa, tapi bukankah optimisme kadang lahir justru dari hal-hal yang amat sederhana?

Apa yang kami lakukan terhadap murid-murid ngaji adalah lilin yang ingin turut menyemarakkan programpengentasan buta-budaya-literasi yang kini masih menyelimuti negeri. Sebab itu, kita perlu lilin-lilin lain agar gema literasi terhadap siswa bisa lebih menyala lagi.

(Seusai Ngaji Baca-Tulis di MI Al-Anwar Jombang Jawa Timur)

Akhirnya
Saya ingin menutup esai ini dengan mengutip Kakawendari Pangeran Wangsakerta. Kakawen yang musti kita renungkan dengan takzim dan seksama demi keberlangsungan adab literasi di masa depan: Awignam astu/ swasti/ telas sinusun mwang sinerat sayampratar tan henti/ dening pirang sang manurat sinerat ri Sakakala/ Nawa gapura marga raja/ eka suklapaksa/ Srewana masa/ Nihan ta/ mangdadiyakna dirga yusawastisanira sang manurat sang amaca/ sang anggogoh mwang sang angupakareka pustaka/ sang tasmat yadiyan hana kaluputan athawa kasasar ing serat sastrei/ waraksmakna ta.

“Mudah-mudahan tiada aral melintang. Semoga selamat. Telah disusun dan ditulis siang malam, tiada henti-hentinya oleh sejumlah penulis. Ditulis pada tahun saka: Nawa Gapura Marga Raja (1599 S./1677 M.), tanggal 1 paro terang bulan Srawana (02 Juli). Demikianlah semoga panjang-panjang usianya, bagi yang menulis, yang membaca, yang menyimpan, dan yang memelihara naskah ini. Maka apabila kesalahan atau kekeliruan tulisan sastra ini, maafkanlah” (cuplikan naskah Pangeran Wangsakerta, 1677 M., Rajya-rajya 1 Bhumi Nusantara, Sargah I, Parwa I, bait 224).

Saat ini kita butuh para guru yang memiliki kapasitas keuletan sekaliber Pangeran Wangsakerta. Guru-guru yang setiap inci waktunya mendedikasikan diri untuk mentradisikan pada siswanya agar senantiasa membaca, menulis, mendokumentasi, dan memproduksi karya sesuai dengan ketertarikan masing-masing siswa. Percayalah, hingga detik ini gerakan baca-tulismerupakan piranti paling ampuh dalam membentuk gerabah karakter jiwa sebuah bangsa.  

(Tak Ada yang Lebih Membahagiakan Selain Melihat Mereka Berkembang dengan Daya Cipta)


Spread the love