Sedari pagi tadi, teh hangat dan tumpukan kue serabi masih tetata rapi. Tak tersentuh. Berbeda dengan lazimnya, semua suguhan itu pasti akan habis dilahap Ayah sebelum mentari beranjak ke tepian kepala. Memang, tak ada yang dilakukan Ayah, kecuali mondar-mandir sembari mamagut keningnya yang tak berkeringat. Itu saja.

Sampai-sampai Ibuku yang sedang melakoni ritus hariannya, memasak dan menabur bubur dedak untuk ayam di belakang, tergoda untuk segera beringsut demi mengetahui apa gerangan yang meyumbat kepala suaminya, Ayahku. Ibu bergegas menanyakan ikhwal itu ke Ayah.

”Ada apa toh Yah, kok dari shubuh cuma bolak-balik kaya orang linglung? Mikirin Agus? Apa yang lain?”, cecar Ibu tak sabar.

Ayahku yang memang bertempramen pendiam dan bijak menanggapi pertanyaan itu dengan tenang. Meski beban berat tak dapat ditutupi dari raut mukanya.

”Ayah kok khawatir jika Agus jadi datang lusa nanti. Soalnya dia begitu berambisi ingin menjual sawah warisan kakeknya di belakang, dan hendak memermaknya menjadi bengkel otomotif. Padahal, sawah itu adalah pusaka yang sudah turun temurun menjadi kebanggan nenek moyangku. Bukan sekadar tanah mati.”, keluh Ayah membuncahkan isi penatnya.

Memang, Agus, kakak sulungku yang kini tengah menempuh studi di Netherland jurusan tekhnik otomoif, beberapa kali menggurat surat tentang rencananya itu kepada keluarga. Akupun sempat sesekali membacanya. Entah apa yang membuatnya begitu ingin menjual sawah warisan kakek? Apa memang pola pendidikan di negeri modern hanya mempelajari tentang eksploitasi, bukan apresiasi; tentang nilai tukar daripada nilai guna; tentang sukses, menepis penghayatan akan proses; tentang kreativitas yang diganti dengan produktifitas?, gerutuku kala itu. Ach, untung saja aku tak jadi mengikuti jejaknya.

”Oh, itu toh. Ibu juga bingung. Tapi juga tak enak jika tak mendukung si Sulung. Satu sisi, suami ingin A. Pada sisi lain, anak hendak Z. Och,,,susahnya jadi wanita!”, kesal Ibu menyudahi percakapannya dengan Ayah.

Ayah yang memang sudah tahu seluk-beluk prilaku istrinya, hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada. Di hatinya mungkin membatin: ”bukannya kasih solusi malah berkeluh diri…”

***

Daripada di rumah ikut pening, aku memutuskan diri untuk hengkang ke sawah. Mumpung sekarang tanggal merah. Aku dapat bersuka cita dan merenungi hidup di sawah peninggalan kakekku yang kucintai. Lagipula, aku sangat rindu mencium aroma asap jerami dibakar. Menghirup bau tanah basah sawah sehabis dibajak. Dan tentu, ini yang paling kusuka, lumpur sawah: rata, datar, menyimpan anugerah alam. Seolah di sinilah Tuhan memercikkan pecahan surga dari Nirwana-Nya. Di sawah ini, sawah peninggalan kakekku.


Aku lewati beberapa tegalan, sembari sesekali rehat di bawah naungan pohon kelapa yang sedang rindang. Di sinilah semua potongan memori dan kenangan indahku bersama kakek terekam. Aku ingat betul, pada saat itu umurku belum genap 5 tahun. Setiap kali kakek dan ayah mau berangkat ke sawah, aku selalu diajaknya turut serta. Kadang naik di punggung ayah, seringkali di pundak kakek. Dan aku begitu menikmati saat-saat indah itu. Itulah alasan mengapa aku menganggap sawah bukan sekadar lahan meraup peruntungan. Tapi lebih dari itu: sawah merupakan tempatku mematri kisah, tempatku berkeluh kesah, dan juga tempatku menghikmati keagungan ciptaan Tuhan. Bagiku, kala itu, aku hanya mempunyai tiga harta paling berharga di dunia ini: kakek, Ayah, dan sawahku. Tak lebih.

Pernah, sewaktu aku sudah duduk di di bangku II SMP, aku terlibat masalah kecil dengan kakaku, Agus, yang sudah menginjak kelas II SMA. Soalnya cuma remeh: Agus memintaku bertukar sepatu dengannya. Alasannya hanya karena sepatuku sedikit lebih bagus darinya, dan mirip seperti sepatu sepak bola yang kala itu tengah trend.


Aku sebagai bungsu tentu tak mau terus-terusan hakku dirampas oleh si Sulung yang arogan itu. Sedangkan Agus, entah sebab apa, sedari kecil ia tak pernah mau mengalah dengan siapapun, meski adiknya sekalipun. Kuakui, dulu, akek, Ayah dan juga Ibuku begitu memanjakannya. Lantaran ialah janin pertama yang lahir setelah 12 tahun ditunggu-tunggu kehadirannya. Bukan aku. Dan rasanya, proporsi itu hingga kini memang masih berlaku, meski sedikit berubah. Pasalnya, kulihat akhir-akhir ini Ayah sudah terlihat lelah menuruti kehendak anak sulungnya itu.

Tapi tak apa. Toh aku sudah dapat kebahagiaan dengan membenamkan diri lama-lama di sawah. Meski di sana tak ada yang kukerjakan selain diam yang mengaji kehidupan.

***

Tibalah hari menakutkan itu: kedatangan Agus dari negeri kincir angin. Menakutkan bagi Ayah dan aku, tentu. Sebab Ibuku memang memandang Agus layaknya Avatar yang tak mungkin menoreh kesalahan. Bagi Ibu, segala yang dilakukan Agus adalah hal yang patut dan perlu didukung, mesti terkadang tak masuk di akal. Buktinya, Ibu pernah menjual cincin tanda kasih dari Ayah hanya untuk memenuhi permintaan si Sulung yang kebelet ingin punya sepeda motor baru. Kasihan Ayah…


Maka, bersiaplah Ayah, Ibu, Mbak dan aku berangkat jauh ke Jakarta untuk menyambut kedatangannya di bandara Soekarno-Hatta. Untuk kedua kalinya aku menginjak tanah Ibu Kota ini. Awal kali, ketika melepas pemberangkatan Agus ke Belanda. Dan sekarang untuk kali yang kedua.

Sebenarnya aku tak begitu berminat ke Jakarta. Selain karena ramai dengan hiruk-pikuk kendaraan yang hanya menebar polusi, Jakarta bagiku tak ubahnya kota yang banyak merampas hak kota dan daerah lain. Sentralistis! Di samping itu, di Jakarta aku tak dapat mencecap aroma transendensi yang lazim kutemu di sawah kampungku. Karena di sini tak ada yang kasat mata selain hanya bangunan yang berjejal-jejal dan pemukiman kumuh yang jauh dari manusiawi. Berbeda dengan situasi kampungku. Meski terkucil dari keramaian, kampungku menyimpan sejuta kedamaian, walau tak banyak ditemu bukti modernisasi di sana. Begitu polos dan alami. Aku rindu kampungku…

Suara pesawat yang berderit kencang membuatku terjaga dari lamunan. Dalam pesawat itu rupanya Agus membawa segunung rencananya yang membuat Ayah dan aku tak dapat tidur nyenyak beberapa akhir ini. Agus turun membawa kopor besar dan ransel di tangan kirinya. Secara fisik, si Sulung tak banyak perubahan. Tapi tunggu…penampilan. Yah, fashionnya kini begitu beda 180 derajat dengan 6 tahun silam di saat belum menapaki negeri seberang. Jika dulu waktu berangkat ia mengenakan setelan celana hitam panjang dan kemeja biru langit yang cantik, sekarang tidak. Yang membalut tubuhnya kini serupa dengan aktor-aktor yang biasa kulihat di TV: jas belel, jeans sarat sobekan, kaos oblong ketat dan kacamata hitam layaknya mafia. Itukah seragam kuliah di Netherland sana?, pikirku heran.

***

Dalam perjalanan tak banyak pebincangan antara aku, Ayah dan Agus. Sedari awal Agus sudah diberondong pertanyaan oleh Ibu. Jadi kami seperti tak punya kesempatan untuk beramah tamah dengannya. Sesampainya di rumah, setelah melewati sedikit basa-basi, Ayah memberanikan diri untuk bertanya pada Agus tentang rencananya itu. Tapi aneh, Agus seperti sudah dapat menangkap sinyal kegelisahan dari ayah. Ia pun memotongnya dengan bergumam: ”Santai saja pak. Aku tak jadi menjual sawah warisan kakek. Karena aku sudah mendapat lahan yang lebih prospektif di Belanda sana. Sejujurnya, kepulangan Agus kali ini hendak memohon restu dari keluarga mengenai rencana terbaru Agus ini. Bagimana menurut ayah?”, ujar Agus terang-terangan.


Ayah, Ibu, Mbak dan aku hanya bergeming dan termangu mendengar ungkapan Agus. Saling pandang satu sama lain. Diliputi oleh semesta tanda tanya sekaligus bahagia.
Spread the love