(Warga Melintasi Ladang Menuju Tebing Hawu Cidadap/Dok. Pribadi)
 
Tahun 2009. Deden Syarif Hidayat (34) gundah gulana. Kampung halaman tempat ia lahir dan bertumbuh kembang tak ubahnya seperti neraka. Eksploitasi penambangan kapur yang terjadi sejak tahun 1970-an di bentang karst Citatah benar-benar membuat ruang hidupnya nelangsa. Dentum dinamit, debu-debu kapur yang berterbangan, kekeringan akibat tergerusnya sumber mata air, adalah pemandangan jamak yang dirasakannya sedari usia kanak. 
 
Ini belum menghitung keanekaragaman hayati yang hilang, raibnya daerah resapan, pergeseran tanah, tergerusnya lahan produktif hijau, kerusakan situs bersejarah, lubang bekas tambang yang menjadi potensi bencana baru, hingga terjadinya wabah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang sanggup merenggut kehidupan kapan saja. Beberapa tahun lalu bahkan lebih dari 50 rumah harus dipindahkan lantaran terjadi pergeseran tanah yang mengkhawatirkan.
 
Deden ingat betul, sepanjang tahun 2011-2013 saja nyaris setiap bulan terdengar kabar kematian akibat destruksi aktivitas tambang. Mulai dari penambang yang tertimpa bebatuan, jatuh dari ketinggian lantaran prosedur keselamatan yang minim, hingga backhoe yang teruruk longsoran material tambang. Data puskesmas kecamatan Cipatat juga mencatat, rata-rata warga penduduk kecamatan itu mengalami infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
 
Manfaat yang diraup dari aktivitas pertambangan sungguh tak berbanding lurus dengan maha kerugian yang harus ditanggung masyarakat. Baik kerugian berupa kesehatan, ekonomi, maupun ketahanan ekologi yang berkelanjutan.
 
Dari Eksploitasi ke Konservasi

(Masjid Cidadap/Dok. Pribadi)

 

Deden lahir di kampung Cidadap, desa Padalarang, kecamatan Padalarang, kabupaten Bandung Barat. Kampung seluas ± 130 Ha ini terdiri dari dua RW (12 dan 13) dan 5 RT. Berpenduduk sekitar 760 jiwa dengan profesi rata-rata sebagai penambang. Profesi ini berlangsung sejak tahun 1970-an dan turun temurun hingga penghujung tahun 2016.
 
Di jalur sepanjang kecamatan Padalarang hingga kecamatan Cipatat terdapat bentang karst bernama Citatah yang sudah sejak lama diganggu kerakusan penambang. Baik oleh penambang kelas gurem (anemer) hingga pabrik berskala besar. Padahal di sepanjang bentang karst tersebut terdapat puluhan peninggalan bersejarah, puluhan sumber mata air, dan kaenakaragaman hayati yang tak terhitung jumlahnya. 
 
Kondisi ini tentu menggiriskan. Kekayaan alam yang mustinya sanggup menjadi anugerah yang mensejahterakan, justru menjadi musibah yang tak berkesudahan. Karena itu sejak tahun 2009, Deden bersama kawan-kawan menginisiasi pembentukan Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC). Forum ini berisikan para pemuda lintas kecamatan di bentang karst Citatah yang ingin keberlangsungan lingkungannya kembali normal. 
 
(Deden Syarif Hidayat/Dok. Pribadi)
 
Layaknya aktivis pemuda pada umumnya, awalnya para anggota FP2KC menggunakan jalur-jalur advokasi secara frontal. Dari mulai litigasi hingga demonstrasi. Akibatnya, banyak anggota FP2KC yang harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Bahkan Deden mengaku, teror dan intimidasi dari para pengusaha tambang saat itu telah menjadi makanan rutinnya setiap hari.  
 
Tapi seiring berjalannya waktu Deden dan kawan-kawan sadar. Upaya perlawanan seperti itu hanya akan menghabiskan waktu dan korban. Maka sejak pertengahan tahun 2014 strategi yang dipakai berubah 180 derajat. Dari advokasi hukum menuju advokasi penyadaran dari bawah. Gerakan yang tadinya frontal berubah haluan menjadi gerakan kultural yang lebih mendidik dan tepat bidikan.  
 
Deden bersama kawan-kawan komunitas FP2KC mulai mencanangkan program penyadaran yang lebih membumi. Dari mulai membuat konsep sekolah hijau hingga wisata berbasis konservasi. Dengan langkah ini, dua mimpi terlaksana: berhentinya upaya perusakan lingkungan dan terbukanya katup kesadaran warga perihal konsep lingkungan yang berkelanjutan.
 
(Model Edukasi Sekolah Hijau/Dok. KBA Cidadap)
 
Sekolah Hijau adalah konsep yang ditelurkan komunitas FP2KC terhadap seluruh peserta didik di semua sekolah di kampung Cidadap. Visi-misinya adalah hendak membiasakan siswa-siswi agar mencintai lingkungan sedari dini. Sebab, dalam keyakinan komunitas ini mencintai lingkungan adalah manifestasi dari keberagaman seseorang. Programnya berisi pembuatan mural-mural edukatif, program menabung sampah (tiap hari Sabtu), dan edukasi terhadap siswa agar bisa memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bernilai.  
 
Kendati langkah tersebut sangat sederhana, tetapi dampaknya sungguh terasa. Terbukti kian hari profesi penambang kian hilang tergerus gerakan perubahan. Mayoritas warga beralih profesi menjadi petani, pengelola wisata konservasi, dan mengembangkan sektor ekowisata jambu biji yang sempat padam. “Bahkan bos tambang asal Cidadap, Abah Asep, kini sudah beralih profesi menjadi ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Cidadap”, ucap Deden girang.
 
(Cidadap Berbenah/Dok. KBA Cidadap)
 
Demikian juga dengan wisata berbasis konservasi. Satu demi satu area tambang berhasil mereka “ambil alih” untuk dijadikan wisata konservasi. Tentunya dengan semangat swadaya dan usaha melobi pihak-pihak pemangku kebijakan tanpa kenal lelah. Ini dilakukan semata untuk meyakinkan warga secara umum bahwa tanpa tambang pun, kawasan lindung karst bisa menjadi pundi-pundi ekonomi yang menjanjikan.
 
Terbukti, sejak kawasan wisata konservasi dibuka, grafik kunjungan wisatawan kian hari kian menampakkan angka yang menggembirakan. Baik itu dari wisatawan lokal maupun internasional. Para pemuda pun secara bergilir menjadi pemandu dan provider wisata minat khusus seperti panjat tebing, rappelling/abseiling, hammocking hingga camping.
 
Untuk kawasan eks-tambang yang sudah dijadikan wisata konservasi-edukatif di antaranya adalah Stone Garden, Tebing Masigit, dan Pasir Pawon (terletak di kecamatan Cipatat). Yang sedang dalam proses adalah Tebing Hawu dan Tebing Pabeasan (terletak di kampung Cidadap kecamatan Padalarang) serta Jungle Stone yang berisi taman keanekaragaman hayati (terletak di desa Citatah kecamatan Padalarang). 
 
(Tebing Hawu dan Pabeasan dari Berbagai Sisi/Dok. Pribadi)
 
 
Peran Astra 
(Dok. Pribadi)
 
Astra Honda Motor (AHM) diam-diam memperhatikan geliat pergerakan pemuda Cidadap. Tak hanya memperhatikan, AHM bahkan menyambut secara antusias biduk kapal optimisme yang sudah dikayuh para pemuda Cidadap. Buktinya, sejak pertengahan 2017, AHM mengikrarkan diri untuk menjadi pendamping setia dalam upaya konservasi alam di kampung yang 50% lahannya telah tergerus ekspansi tambang ini.
 
Berbagai program pelatihan dan bantuan sarana prasarana AHM berikan. Terutama yang berkaitan dengan program empat pilar Astra: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan. Misalnya pelatihan tentang tata kelola lingkungan seperti pilah sampah, komposter, pengembangan tanaman hidroponik hingga pembuatan kerajinan dari pemanfaatan sampah non-organik.
 
(Deden dan Toni Dua Aktivis Cidadap/Dok. Pribadi)
 
Begitu juga dengan program bantuan. Dalam bidang pendidikan, AHM memberikan seperangkat alat kesenian (angklung) untuk sekolah MI Al-Mujtahidin Cidadap dan papan edukasi di area wisata konservasi. Dalam lini kesehatan, AHM menggelontorkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Posyandu Cidadap.

(MCK, Sumur Bor, dan Komposter/Dok. Pribadi)

 

Untuk pembenahan lingkungan, AHM memberikan lima komposter dan tong sampah edukatif. Juga ratusan bibit jeruk yang ditanam di setiap halaman depan rumah warga kampung Cidadap. Dalam hal pemberdayaan, AHM memberikan peralatan rajut keterampilan untuk ibu-ibu wali murid PAUD Melati Cidadap. Bahkan belakangan PAUD Melati menjadi Pusat Pengembangan Kerajinan Sampah. Selain itu, juga ada pengembangan kebun hidroponik yang berisi bayam, kangkung, cakcoy, sosin, dan selada bokor. 
 
Sarana prasarana juga tidak ketinggalan. AHM membuat sumur bor sebagai langkah antisipasi kekeringan, gazebo di area wisata konservasi, papan-papan edukasi, satu tempat wudlu, dan membangun dua MCK yang representatif. Pembangunan dua MCK di bale sawala dan mushalla ini sungguh sangat disyukuri warga Cidadap. Sebab sejak ada MCK di sentra-sentra pertemuan warga ini, kegiatan menjadi kian hidup dan bersemangat. Puncaknya, pada Juni 2017 Astra Honda Motor menjadikan kampung Cidadap sebagai Kampung Berseri Astra dengan konsep desa wisata lingkungan (ecovillage).
 
(Wajah Baru Cidadap/Dok. Pribadi)
 
“Program sosial kemasyarakatan AHM di KBA Cidadap meliputi pendidikan, kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang produktif. AHM bersama Pemerintah Daerah khususnya Dinas Lingkungan Hidup Bandung Barat membantu dalam bentuk pendampingan dan pemberian sarana prasarana untuk mendukung berbagai aktivitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Cidadap”, ujar Djunaedi Syarif, CSR Departement Astra Honda Motor.
 

Tak hanya itu. Dalam waktu dekat AHM bahkan akan mengembangkan program berikutnya berupa peningkatan ekonomi produktif. Seperti pembuatan industri kreatif dari produk unggulan desa Cidadap berupa jambu biji dan panganan khas Bandung Barat lainnya. Dengan ini, “AHM berharap ke depan Cidadap sanggup menjadi roles model kemandirian masyarakat dalam membangun kelestarian lingkungan, meningkatkan taraf hidup, mandiri secara ekonomi, dan berakar pada budaya lokal (sunda) yang produktif”, ucap Djunaedi memungkasi.

(Toni di Balai KBA Cidadap/Dok. Pribadi)

 

Menyambut Cidadap Berseri

(Deden di Kebun Hidroponik/Dok.Pribadi)

 

Deden bersyukur, inisiatifnya dengan kawan-kawan FP2KC didukung penuh oleh AHM. Ia juga merasa tugas kemanusiaannya untuk menyelamatkan lingkungan tempat ia lahir dan bertumbuh kembang purna sudah. Kendati jalan itu harus dilaluinya dengan cara melawan tradisi puluhan tahun yang sudah turun-temurun membiak dari para pendahulunya. 
 
Akibat torehan itu, kini Cidadap menjadi laboratorium alam yang kerap dijadikan tempat riset akademisi-akademisi kampus terkemuka. Dari mulai Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (UNPAD), Universitas Gunadarma Jakarta, hingga Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Mereka datang dari lintas disiplin ilmu: mulai geologi hingga sosiologi. Bahkan di tahun 2017 tiga mahasiswa sosiologi UNPAD menjadikan Cidadap sebagai lokus riset skripsi mereka. Ada yang mengulas dari perspektif peralihan mata pencaharian, konflik tambang, hingga model wisata konservasi alamnya yang menawan.  

(Berbagai Kerajinan Kayu Warga Cidadap/Dok. KBA Cidadap)

 

Media massa juga tak mau kalah. Berduyun-duyun awak pers baik dalam maupun luar negeri mengabadikan kemajuan Cidadap yang diraih dengan tempo begitu sigap. Dari media berbahasa Arab macam al-Jazeera hingga media-media berpengaruh lain di belantara Eropa. 
 
Inilah setitik riwayat kampung Cidadap. Kampung mungil di ujung barat kabupaten Bandung yang lamat-lamat mulai bangkit dari keterpurukan menuju cahaya yang terang benderang. Warga yakin, mereka bisa tumbuh lebih maju tanpa asupan tambang. Dan AHM mengajarkan pada warga bahwa tak ada upaya perlawanan terbaik menghadapi ketertinggalan kecuali melalui jalan penyadaran dan pemberdayaan.
 
(Cidadap Bergeliat/Dok. KBA Cidadap)
 
 
 
Spread the love