(Dari Siswa Untuk Guru Diniyyah)


Malam itu sehabis maghrib. Salah satu lokal diniyyah ulya begitu riuh oleh penghuninya. Ada yang membaca do’a sambil guyon, ada pula yang asyik ngobrol dengan temannya, pun juga ada yang enjoy membolak-balik buku, kitab dan komik anak-anak. Yach, seperti itulah kondisi ulya menjelang dimulainya diniyyah. Kelas yang dielu-elukan sebagai tingkatan ter-maha di Muhibbin itu ternyata tak jauh beda dengan kelas satu ula yang masih gandrung dengan bercanda ria.
Bapak guru masuk tanpa do’a, pembukaan ataupun sekadar salam. Beliau langsung memaknai kitab –yang disengaja- secara acak. Beliau tak mengindahkan apapun selain membaca kitabnya dengan ekspresi muka muram tanda berang. Tak sedikit murid interupsi, bahwa yang dibaca sang guru tidaklah tepat, tandas mereka sepakat. Tapi apa jawab sang guru? “Mesisan…do’ane gak serius. Aku yo mocok sakkenone wae. Tak acak!” Situasi tegang pun menyeruak ke dinding-dinding kelas saat itu, tak terkecuali para penghuninya.
Tak ada yang tersisa malam itu kecuali ketegangan, ketakutan, dan kengerian yang mencekam. Sampai pada puncaknya, ada murid yang datang terlambat, langsung dikeluarkan oleh sang guru. Para murid lainpun saling pandang, mencekam. Situasi ini terus berlanjut hingga bel tanda akhir diniyyah berdering. Bapak guru meninggalkan tempat duduknya sama seperti peristiwa-peristiwa awal. Tanpa doa, penutup atau sekadar salam sekalipun. Para murid hanya tercengang tak berkutik. Ada yang ketakutan karena merasa menyaakiti hati guru, ada yang menggerutu tanda tak setuju, dan ada pula yang menganggap hal itu sebagai angin lalu saja.
Setelah semua bubar, penulis juga hengkang ke kamar hendak melepas kepenatan. Jujur, yang ada dalam benak penulis waktu itu hanyalah kebencian, cacian, makian, serapahan yang membludak di sekujur otak. Tak lebih dari itu, karena penulis beranggapan, tidak selayaknya kejadian itu terjadi hanya karena masalah remeh –guyon.  Betapa banyak kekecewaan yang menyembul ke sela-sela syaraf. Waktu yang sebenarnya dapat digunakan untuk mediasi transformasi ilmu, tersita hanya karena ego yang sedang tidak stabil.
Kenapa kami yang harus menjadi korban pelampiasaannya, jika memang bapak guru sedang dirundung masalah? Kenapa harus diselesaikan dengan amarah jika dialog yang sehat masih terbuka untuk dilakukan? Dilarikasn ke mana hak kami untuk belajar? Lebih jauh, penulis berkeyakian bahwa lelaku seperti itu tidaklah patut dilakukan oleh seorang guru, karena yang demikian hanya cerminan dari sikap pesimistis, hipokrit, oportunis, skeptis yang tak beralasan. Dan semua variabel sikap itu hanyalah pantas masuk ke keranjang sampah, bukan di tempat yang penuh karomah: diniyyah!
Dan alhamdulillah, tak secuilpun asumsi picik yang sempat menusuk otak penulis. Asumi yang menurut penulis tak lebh dari sekadar “timbunan bawah sadar” yang perlu diluruskan. Seperti merasa mengecewakan hati guru, merasa bersalah, hingga pada akhirnya ketidak-manfaatan ilmu yang akan mendera murid di kemudian hari. Atau paling minimal khawatir akan terjadi hukum karma yang bakal menimpa sang murid kelak. Sekali lagi, tidak ada!
Penulis percaya bahwa tak ada satu pun individu atau lembaga yang kuasa memberi otoritas bahaya atau manfaat kecuali Allah Yang Maha Kuasa. Sehingga tidak ada lagi istilah hukum alam, karma atau apapun saja. Karena yang ada hanyalah hukum Allah yang berjalan di bawah naungan qudrat dan irodat-Nya.  Dari sini, sepertinya “mitos” perihal ilmu manfaat, barokah dan segudang “unsur mistis” lainnya yang sudah mendarah daging dalam paradigma berpikir kita, kiranya perlu ditafsirkan ulang. Sehingga sugesti tidak mendewasakan yang kerap kali menimpa murid dapat ditepis oleh rasa percaya diri. Seperti kata Soe Hok Gie: “guru bukanlah malaikat yang selalu tepat dan benar. Begitu juga murid bukanlah keledai yang selalu salah dan perlu ditatar”.
Tak semua amarah itu buruk. Sebagaimana tak semua sikap lembut itu baik. Amarah yang dikelola dengan bahasa yang jernih, jujur dan mau berdialog dengan mukhotobnya juga positif dan punya nilai lebih. Semangat untuk selalu berdialog dan membimbing itulah yang harus dimiliki oleh setiap pendidik. Karena amarah yang tidak dilandasi oleh alasan di atas hanya akan melahirkan prasangka buruk, bahkan dusta. Di samping amarah, kata sebagian pakar medis, bisa mengakibatkan proses kerja jantung menjadi tidak normal sehingga membahayakan si empunya. Lebih jauh, konon, amarah yang tidak berorientasi lillahi ta’ala hanya akan menjerumuskan pelakunya ke neraka.
Seperti Ali k.w. ketika melawan orang kafir di medan perang dulu. Beliau begitu bersemangat membabat orang kafir. Beliau teramat marah, marah fi sabilillah. Tetapi ketika beliau hendak menerjunkan pedangnya pada salah satu lawan, mendadak beliau enggan menuntaskannya. Apa pasal? Karena orang itu meludahi muka Ali hingga membuat Ali geram. Seketika Ali tersadar. Marahnya bukanlah marah yang berorientasi ilahiyyah, melainkan hanya luapan emosi belaka. Sungguh contoh yang ideal bagi mereka yang berhobi marah. Saya juga percaya bahwa marah adalah tindakan yang teramat wajar dan manusiawi. Tetapi bagi mereka yang menjadi publik figur hendaknya mampu mengemas amarah menjadi sesuatu yang menarik dan cerdas sehingga mampu  mendewasakan fans publiknya.
Ketika penulis sedang asyik merangkai tulisan ini, tiba-tiba datang seorang teman yang pada saat kejadian disuruh keluar oleh sang guru. Lucunya, ia adalah salah satu dari sekian teman-teman penulis ynag ketakutan itu. “Aku takut mengecewakan hati guru. Aku khawatir ilmuku tak bermanfaat”, katanya pada penulis!   

[5 tahun yang lalu, essai ini sempat menjadi trending issue di pondok pesantren yang kunaungi. Kini naskah ini sudah menjadi klasik tapi tetap menggelitik. Minimal menggelitik bawah sadarku untuk kembali membingkai saat-saat itu. Hehehe]  
Spread the love