Tema tentang asal muasal manusia memang selalu relevan untuk dibahas. Karena, semakin ke sini semakin banyak saja versi yang menjelaskan asal-usul manusia berikut argumentasinya masing-masing untuk memperkuat. Tapi dalam kesempatan kali ini, saya tak ingin terjebak begitu dalam pada dua kutub pendapat yang sudah lapuk, yaitu: kutub Nabi Adam dan Om Darwin. Karena, harus ada terobosan baru yang musti diketengahkan agar ada dinamika pengetahuan.
Kita tahu, para umat beragama di seantero dunia sepakat bahwa asal usul manusia adalah Nabi Adam. Ini didasarkan pada penjelasan-penjelasan kitab-kitab suci agama samawi. Tapi jika dimintai bukti konkrit (dalam bahasa kerennya: empiris) mengenai hal itu, umumnya para relijius itu menjawab dengan argumentasi yang berputar-putar tak karuan. Juga tak sedikit yang bersembunyi di balik jubah keimanan. Bahwa: yang diperlukan orang beriman itu meyakini, bukan mengetahui. Walah, walah.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap umat beragama (karena saya juga beragama, lho), keyakinan semacam ini menurut saya punya dua kelemahan yang sangat mengganggu. Pertama, keyakinan ini hanya akan membuat pikiran kita akhirnya malas berpikir. Malas untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru tentang asal-usul manusia. Malas untuk mempelajari temuan lain dari pemikiran yang berseberangan dari alirannya. Karena keyakinan ini dengan mudah berdalih: tugas kita bukan mencari tahu, tapi meyakini.Karena kami orang beriman. 
Jika seperti ini, mengutip lagunya band Marjinal, berarti iman itu pembodohan dong? Karena keimanan pada akhirnya menjadikan seseorang malas berpikir dan malas mencari tahu. Maka dari itu, menurut saya keimanan dalam kasus ini hanya alibi. Atau semacam apologi gitu. Ini kan kurang asyik? 
Kedua, keyakinan yang menyatakan bahwa manusia (Nabi Adam) sebagai mbahnya manusia, secara tak langsung, juga melahirkan sikap merasa superior. Merasa menjadi nomor satu dan berkuasa atas apa yang ada di bumi ini. Sebaliknya, menomorduakan dan bahkan memperbudak juga merusak elemen-elemen makhluk hidup lain yang tinggal di bumi ini. Dari sinilah akhirnya muncul kasus penebangan hutang secara kolosal, menjejali lahan-lahan resapan menjadi lahan hunian, mengotori laut dengan limbah, menembaki orang utan hanya gara-gara sedikit mengganggu perkebunan sawit, dan lain sebagainya. 
Kasus-kasus seperti itu, diakui atau tidak, motivasinya karena manusia merasa paling superior. Karena manusia merasa paling mulia. Karena manusia merasa paling berkuasa atas semua isi jagad raya. Padahal yang kita butuhkan saat ini adalah: menjadikan hewan dan tetumbuhan sebagai kawan. Menjadikan alam sebagai rumah berteduh yang ramah. Agar alam tak terus-menerus mengamuk melalui Tsunami, gempa bumi, dan banjir bandang. Karena pada dasarnya, semua penghuni di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain. Maka kita harus mencintai mereka seperti kita mencintai diri sendiri. 
Tapi, meski saya mengkritik pendapat di atas, bukan lantas saya akhirnya menjadi jemaat fanatiknya Om Darwin. Justru dalam banyak hal, hampir 90%, saya tak setuju dengan pengarang buku lawas On the Origin of Species (cetak awal: 1859) itu. Karena meski jelek-jelek begini, saya tak mau dikatakan sebagai keturunan satuan primata. Hehehehe. Jangankan saya, di Amerika saja yang perkembangan ilmiahnya begitu pesat, banyak yang mencemooh teori Evolusi. Mereka para ilmuwan negeri Abang Sam itu lebih mengibarkan teori tentang adanya “desain yang pintar” di alam semesta ini. Disamping alasan itu juga, saya lihat, pandangan Om Darwin lebih didasari balas dendam daripada penelitian ilmiah yang valid dan netral.

Kok bisa? Ya, karena saya tahu betul, Om Darwin itu kan dulunya dikirim oleh sang ayah untuk jadi pastor di Chirst’s College Cambridge. Dia secara psikis menerima dogma-dogma Kristen ortodoks dari William Paley secara mentah dan karena tuntutan akademik belaka. Paley, melalui bukunya, Evidences of Christianity, berhasil membuat dendam Darwin begitu menyala terhadap agama. Padahal passion Darwin ada di ilmu kedokteran (tapi sayang, di-DO). Maka, melalui ilmu biologi, dan penelitian selama 5 tahun atas satwa liar dan fosil, si Om Brewok ini balik menyerang gurunya dulu di sekolah Pastoral: Paley.  
Terlepas dari semua kelemahan pendapat dua kelompok di atas, saya kok punya pandangan lain tentang “teori asal-usul”. Yaitu: saya sudah tak peduli lagi asal-usul manusia dari mana. Entah dari kera, pisang, maupun knalpot, saya tak ambil pusing. Karena pelacakan genealogis seperti itu biasanya hanya akan menimbulkan sentimen baru. Baik itu sentimen agama, ras maupun bangsa. 
Contohnya Adolf Hitler, bos Nazi itu dengan keji membantai jutaan umat manusia hanya karena asal-usul yang tak sama. Hanya karena warna kulit, mata dan rambut yang berbeda. Hitler meyakini, bahwa ras terunggul di muka “bumi manusia” ini adalah ras Arya. Selain ras itu, harus dibumihanguskan.

Begitu juga dengan Israel. Bangsa ini begitu menganggap kaumnya (Yahudi) sebagai manusia superior yang bisa melakukan kesewenang-wenangan di mana saja seenak udel mereka. Ini didasarkan pada keyakinan mereka bahwa Tuhan menciptakan umat Yahudi jauh lebih berkualitas dibanding umat-umat lainnya. Dari sinilah lahir janin ideologi Zionisme yang sudah menghisap darah kemanusiaan sejak tahun 1948 hingga saat ini. Palestina, bisa disebut sebagai korban terempuk dari kebiadaban ideologi “asal-usul” itu. Tentu ini mengerikan, bukan?

Maka dari itu, daripada kita menjadi korban lanjutan dari ideologi “asal-usul”ini, lebih baik kita pikirkan saja, sesungguhnya peran dan fungsi kita sebagai manusia. Ini yang terpenting. Kita harus menyadari tugas kita sebagai manusia itu apa? Tentu kita semua sudah tahu akan itu. Manusia harus menebar benih kebaikan pada sesama manusia lainnya, tetumbuhan, hewan dan semesta raya.  Bahwa Tuhan tak pernah melihat “asal-usul” seseorang. Tapi melihat jejak kebaikan apa yang sudah pernah ditorehnya selama hidup di muka bumi. 
Dari sini, kita harus belajar pada Raka (Omesh) dalam film Mama Cake. Dia menemukan Tuhan (kesadaran) justru ketika melewati perjuangannya yang panjang demi neneknya yang sedang sekarat untuk membeli kue Brownies di toko legendaris Mama Cake, Bandung. Dari sini, kita sadar: ternyata Tuhan bisa dijumpai bahkan di dalam kue brownies. Jangan-jangan, asal-usul manusia itu dari kue brownies? Entahlah. Yang jelas, Tuhan ada pada mereka yang sanggup memberikan pengorbanan. Bagaimana menurutmu? 

30 Juni, 2012

Spread the love