Ketika pertama belajar menulis, saya dibingungkan oleh beberapa pertanyaan ini: Apa yang akan saya tulis? Mulai dari mana? Bagaimana cara mengakhirinya? Bagaimana nanti jika hasilnya mengecewakan? Itu adalah beberapa tanya yang selalu menghantui saya saat itu. Hal ini juga kerap terjadi ketika saya sedang mengalami kemacetan menulis yang sangat (block writing).
Dari pertanyaan itulah, akhirnya saya tinggalkan tuts keyboard komputer butut yang hanya punya program Microsoft Word. Saya tak jadi menulis. Saya lebih memilih aktivitas lain yang lebih mudah dan menyenangkan. Yang tak membutuhkan proses berpikir dan merenung, tentunya. Nonton TV atau ngobrol dengan teman, misalnya.
Tapi sesudah semua pelarian itu usai, ada rasa bersalah dan gundah yang masih mengganggu benak: kenapa saya belum juga menulis? Bukankah menulis itu mudah? Tinggal tuangkan saja, beres masalah.  Tanya-tanya inilah yang akhirnya mendorong saya untuk mengelus lagi tuts komputer butut dan menulis: Tulislah apa yang kamu pikirkan. Jangan pikirkan apa yang akan kamu tulis.
Setelah kalimat itu selesai saya tulis, tak disangka, berjubelanlah kata, kalimat dan paragraf yang meluncur dari tanganku begitu saja. Tanpa bisa dikontrol. Pikiran dan kemauan telah merobohkan tembok keraguan dan kegamangan saya. Tangan seakan telah lama ingin menari dan enggan untuk berhenti. Di sini, sugesti telah berhasil mengalahkan asumsi.
Dari situlah saya dapat resep ini, kiat menulis yang paling baik dan mujarab adalah: tuangkan saja. Biarlah mengalir. Biar saja itu terkesan seperti meracau dan ngawur. Karena, mungkin saja kengawuran itu bisa menjadi gaya tulisan yang indah. Jangan pikirkan apapun. Apalagi yang menyangkut teori menulis. Karena hal itu hanya akan menyumbat spontanitas dan kreativitas kita dalam menulis. Dan, sungguh, kata-kata itulah yang terus membuat saya menulis hingga kini. Ya, cuma kata-kata itu. Sungguh.
Membaca adalah kekasih menulis
Tapi tentu, menulis saja tanpa diiringi dengan tradisi membaca hanya akan menghasilkan tulisan yang hampa ide dan kosong isi. Paling jauh, tulisan seperti itu hanya sekadar menjadi luapan ekpresi yang datangnya semata dari rasa dan emosi. Dan sejujurnya, tulisan yang seperti ini akan sulit menarik perhatian pembaca. Karena fitrah manusia sejatinya memang selalu menginginkan ide yang menyegarkan dan inovasi yang mendobrak. Mirabeau, salah satu arsitek Revolusi Prancis, pernah berujar: ada orang yang tak pernah mengubah pikirannya. Itulah orang yang tidak pernah berpikir sama sekali.
Jadi dalam hal menulis, selalu menginovasi ide, perspektif, tema, maupun gaya bahasa merupakan sesuatu yang niscaya. Kebaruan dan kesegaran merupakan sunnatullah dalam dunia tulis-menulis. Sebaliknya, kemandegan, kejenuhan dan pengulangan ide merupakan cacat dalam dunia tulis menulis. Jadi, untuk terus memperbaiki kualitas tulisan kita, janganlah pernah ragu untuk terus membaca. Baca apa saja. Jangan membatasi bahan bacaan. Karena, semua bacaan itu akan membentuk pola pikir kita yang menyeluruh dan tak terpetak-petak. Tidak hitam putih dalam memandang dunia.
Di samping itu, membaca juga dapat mengobarkan rasa ingin tahu dan skpetis kita. Dua hal yang menjadi tenaga dahsyat bagi seorang penulis. Tanpa kedua hal itu, penulis akan sulit untuk langgeng dan bertahan di jalannya. Jadilah anak kecil yang selalu bertanya-tanya karena ingin tahu. Jangan jadi manusia dewasa yang mudah bosan dan menganggap telah tahu segalanya. Anak kecil selalu menatap semua fenomena hidup ini dengan tatapan takjub dan decak kagum. Beda dengan manusia dewasa, semua hal yang ada di depannya dianggap hanya sebagai sesuatu yang biasa saja. Yang lumrah saja. Itulah masalahnya. Kita agak enggan belajar kepada anak kecil.
Di sini Gus Dur mungkin bisa menjadi contoh yang baik. Presiden ke-4 RI ini adalah seorang gila-baca yang sulit dicari tandingannya. Di lemari buku cucu pendiri NU ini akan ditemukan tidak saja tumpukan buku dan kitab dari berbagai bahasa (karena beliau seorang polyglot), tapi juga komik dan fabel dengan berbagai macam tema. Wajar jika di kemudian hari, seorang santri tulen ini menjadi penulis kondang yang terkenal kontroversial tapi menyegarkan. Idenya seakan tak pernah kering. Perspektifnya selalu segar dan mendobrak. Dan solusi yang ditawarkannya selalu tepat bidikan. Itulah seorang Gus Dur: guru bangsa, waliullah, intelektual, budayawan, kyai, politikus dan penulis yang amat mencintai membaca. Beliau adalah pasar malam yang mempunyai segala macam hal dagangan.
Menulis bukan bakat
Menulis juga sebenarnya bukan sesuatu yang memerlukan bakat maupun kecerdasan. Yang jauh lebih penting dibutuhkan adalah ketekunan. Itu saja. Kecerdasan tanpa ketekunan hanya akan melahirkan kebanggaan yang dungu. Sedang ketekunan tanpa kecerdasan justru terkadang dapat menjadi amunisi yang menggetarkan banyak khalayak.
Untuk meraih keberhasilan, hanya 10 % bakat dan kecerdasan memepengaruhi. Selebihnya (90%) adalah ketekunan dan kerja keras, kata Thomas Alfa Edison, si pecandu rokok yang menemukan bola lampu itu. Kitab Ta’lim al Muta’alim juga menambahkan: al ilmu bil jiddi la bil jaddi. Ilmu itu diperoleh karena ketekunan, bukan karena keturunan.
Contoh kecil. Saya mempunyai dua orang sahabat yang juga senang menulis. Yang pertama berasal dari latar belakang keluarga kaya dan berpendidikan. Yang kedua justru sebaliknya, orang tak mampu yang bahkan keluarganya buta dalam dunia tulis dan bacaan. Kedua sahabat ini kuliah di kampus yang sama, dan juga meniti karir menulis bersama.
Tapi apa yang terjadi setelah 4 tahun berlalu? Penulis pertama yang kaya dan cerdas itu justru gagal dan berhenti berkecimpung di dunia tulis menulis. Sedangkan yang kedua, ajaib, menjadi penulis produktif kaliber nasional. Apa sebab? Setelah diteliti ternyata penulis yang pertama mudah merasa puas pada apa yang telah dihasilkan,  dan cenderung meremehkan (karena memang ia cerdas).
Sedang yang kedua tak pernah mau berhenti secuilpun berkarya dan berkreasi. Baginya, tak ada kata final dalam pengembaraan dunia penulisan. Setiap kali ia rampungkan satu tulisan, ia tak pernah mau menengok tulisannya lagi selain untuk evaluasi dan revisi. Sebab ia sudah mempersiapkan tulisan yang lain lagi.
Menulis juga tak membutuhkan teori maupun materi yang muluk-muluk. Karena menulis lebih erat kaitannya dengan keterampilan dan pembiasaan, bukan kecerdasan tanpa diiringi dengan pembiasaan. Itu sama saja omong kosong! Justru kadang, seseorang yang hanya berkutat pada teori dan materi penulisan, justru tak pernah mampu melahirkan secuil tulisanpun. Karena memang ia cuma sibuk memikirkan teori daripada praktiknya. Sebaliknya, tanpa teori atau apapun,  pokoknya asal tulis, justru lebih mempercepat ketajaman seseorang dalam perkembangan karir menulisnya.
Ini saya alami sendiri. Jujur, 5 tahun berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, saya tak pernah sekalipun mengikuti training, seminar maupun kursus kepenulisan (jurnalistik). Yang saya lakukan justru langsung menulis fenomena apa saja yang berkelibat di depan saya. Urusan jelek atau bagus, itu urusan nanti. Sebab, revisi itu kita buat setelah tulisan jadi.

Dan, Alhamdulillah, meski belum selevel dengan Andrea Hirata maupun Habiburrahman as-Sayrozi, saya dapat menulis hal apa saja yang saya sukai. Dari mulai menulis artikel atau essai untuk menawarkan ide, menulis cerpen untuk bacaan anak-anak di Langgar dan Sanggar, hingga menulis puisi untuk menggaet sang pujaan hati. Jadi intinya: tulis saja. Tak kurang tak lebih.
Itu pengalaman saya. Bagaimana dengan Anda? Wallahu A’lam.
Spread the love