(Gerai BT Batik Trusmi/ Dok. Pribadi)


Jika Anda ingin memahami hari ini, Anda harus mencari kemarin
—Pearl S. Buck

Seiring massifnya kabar ihwal Cirebon yang akan segera menyongsong fajar metropolitan baru, terbetik beberapa tanya di benak: apa Cirebon sudah siap lepas landas menjadi kawasan metropolitan di mana kepentingan ekonomi, budaya, politik dari pelbagai bangsa akan membaur di sini? Apakah Cirebon ma(mp)u mengulang sejarah megapolitan seperti halnya dahulu ketika Cirebon masih bernama Singhapura –satu kerajaan kecil di bawah dinasti Padjajaran? Apakah kita benar-benar sanggup menjadi pemain di gelanggang modernitas yang kini tak bisa dibendung lagi? Atau sekadar menjadi penonton pasif yang melihat para pemain-pemain tangguh berlaga di panggung utama?   

Modernitas adalah sebuah niscaya. Tak ada satupun elemen yang dapat membendungnya. Bahkan, berabad jauh sebelum kita mengenal arti modernitas, Cirebon sudah menjadi kota satelit megapolitan yang menjunjung tinggi multikulturalisme. Modernitas dan megapolitan sudah menjadi nyawa Cirebon sejak lama. Ini bisa kita tengarai di tahun 1421 di mana Cirebon menjadi pusat perdagangan internasional pelbagai bangsa seperti Persia, Arab, Tiongkok, India dan sebagainya. Tak hanya sebagai pusat perdagangan, pergumulan intens dengan pelbagai bangsa itu juga tak ayal menjadi mozaik yang lebih luas hingga membentuk gerabah multikulturalisme. Dari sinilah tesis bahwa Cirebon dari dulu merupakan kota global-mondial tak dapat terbantahkan. 

(Dokumen Pribadi)


Persia dan Arab, harus kita akui telah membawa misi profetis ke-Islaman di tatar Cirebon ini. Tiongkok memberi kita semangat akan pentingnya sebuah strategi ekonomi yang tangguh. India memberi kita pengertian bahwa menjaga tradisi adalah sebuah hal yang niscaya ketika globalisasi sudah menjadi gejala yang tak terelakkan. Ini semua mengkristal dalam simbolisasi kereta Paksi Naga Liman. Paksi memendarkan cahaya langit yang bisa kita identifikasi sebagai agama (Arab-Islam). Naga adalah simbol yang memberikan sugesti akan ketangguhan ekonomi di bumi (Tiongkok). Dan Liman perlambang tumbuhnya nilai-nilai tradisi yang musti digenggam dan dikembangkan (India). 

Dan sejarah megapolitan itu kini akan segera berulang. Tesis itu bisa kita runut dari mulai beroperasinya Tol Cipali, Bandara Kertajati, dan rencana dihidupkannya lagi Pelabuhan Cirebon. Ketiga moda transportasi itu (darat, udara, dan laut) adalah indikator yang menandai geliat bangkitnya Cirebon dari keterpurukan sejarah. Sebab, dengan hadirnya ketiga moda transportasi itu lalulintas peradaban dan ilmu pengetahuan akan dengan mudah berinteraksi dari bangsa manapun dengan segepok kepentingan apapun. Gejala dininya bisa dilihat dari semerbaknya investor yang tak ragu menancapkan investasinya di kawasan ini. Investasi itu mewujud mulai dari perhotelan, mall-square, pariwisata, hingga kuliner. 

Dengan kata lain, Cirebon saat ini tengah menjadi magnet yang membuat banyak orang (utamanya pebisnis) mabuk kepayang. Potensi wisata Cirebon tidak dapat diremehkan. Apalagi yang berkaitan dengan budaya dan tradisi. Dari geo-kultur, geo-politik, hingga geo-ekonomi, posisi Cirebon memang sangat potensial dan strategis. Apalagi ditambah dengan sejarah panjang yang hadir di belakangnya. Kultur multikulturalisme yang bercirikan inklusif, toleran dan demokratis juga menjadi modal kuat bahwa Cirebon layak jadi tampat pelbagai bangsa saling berbagi kearifan di sini. Oleh sebab itu, kita mustinya sanggup mengambil momentum dengan menjadi lokomotif terdepan dalam mempromosikan budaya Cirebon ke para pendatang dari pelbagai wilayah itu. Katakanlah semacam duta budaya yang hendak mengembalikan marwah budaya dan tradisi Cirebon kembali ke puncak tertingginya. 

(Stan Foto di BT Batik Trusmi/ Dok. Pribadi)


Berangkat dari Budaya-Tradisi 

Di antara sekian banyak produk budaya adiluhung Cirebon yang hingga detik ini masih tegak berdiri adalah Batik Trusmi. Ditilik dari sisi historis, konon pada abad 15 Sultan menyuruh salah satu warga desa Trusmi untuk membuat batik seperti milik Sultan tanpa diberi secuilpun sampel motifnya. Ketika deadline pembuatan batik itu sudah tiba, ajaib sekali, sang warga mampu membuat batik yang sama persis seperti yang dikehendaki sang Sultan. Sultan pun berdecak-kagum dan mengakui kapasitas estetika warga Trusmi. Sejak saat itu, sentra produksi pembuatan batik yang semula berpusat di keraton dialihkan ke daerah Trusmi.

Belakangan, kita mengenal bahwa warga Trusmi tersebut bernama Ki Gede Trusmi. Seorang pengikut Kanjeng Sunan Gunung Jati yang sangat setia dan taat. Seperti halnya Sunan Kalijaga di Demak, Ki Gede membisikkan agama Islam sepanjang kurun 1448-1568 M melalui medium budaya dan seni pembuatan batik. Demi menghormati semua jasa-jasanya, warga sekitar Trusmi setiap tahun senantiasa menyelenggarakan ritus Gantos Welit (Memayu) dan Gantos Sirap tiap empat tahun sekali. Tak ketinggalan, tradisi Selawean atau Muludan Trusmi juga digelar setiap tanggal 25 Rabiul Awwal (bulan Maulid).

(Para Pengrajin Batik di Edu-Center BT Batik Trusmi/ Dok. Pribadi)


Mengikuti jejak Ki Gede Trusmi, hingga kini tradisi membatik itu terus mentradisi dan bersemi. Bahkan menjadi ikon andalan kebudayaan Cirebon. Di antara daerah para pengrajin batik Cirebon yang kini masih aktif berproduksi tersebar di desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah dan Panembahan. Semuanya masih masuk dalam lokus kebudayaan Trusmi. Jenis motif batik yang mereka lahirkan antara lain ialah Megamendung, Paksi Naga Liman, Patran Keris, Patran Kangkung, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, Sawat Penganten, Katewono, Gunung Giwur, Simbar Menjangan, Simbar Kendo, dan lain-lain. 

Megamendung sebagai motif dasar batik Cirebon-Trusmian memang telah lama menjadi legenda hingga ke mancanegara. Saking masyhurnya, Pepin van Roojen, penulis dan Indonesianis terkemuka berkebangsaan Belanda, menjadikan Megamendung sebagai sampul bukunya yang berjudul Batik Design. Ini tentu bukan saja lantaran keindahan motif Megamendung yang begitu mempesona, tetapi juga nilai historis dan filosofis yang tertanam dalam motif Megamendung-lah yang menjadikan motif ini menjadi primadona. 

(Pengunjung yang Mengabadikan Momen di BT Batik Trusmi/ Dok. Pribadi)


Hal ini juga yang pada akhirnya membuat United Nations Educational, Scientific and Culltural Organization (UNESCO) pada tanggal 02 Oktober 2009 di Abu Dhabi akhirnya menyelesaikan salah satu sidangnya yang mengukuhkan 76 seni-tradisi dari 27 negara sebagai warisan budaya tak benda. Negeri kepulauan ini turut menyambut gembira keputusan sidang tersebut lantaran batik Indonesia termasuk di dalamnya. Sebuah karya masterpiece leluhur yang menunjukkan betapa Pesona Indonesia begitu berkilau di mata dunia.


Keputusan UNESCO tersebut adalah titik balik di mana batik kembali mendapat pengakuan internasional yang proporsional. Tentu banyak masyarakat yang menyambut baik kabar ini dengan kembali menekuni budaya batik. Di antara mereka yang berbahagia itu adalah masyarakat di sekitar daerah Trusmi yang memang sudah lama menjadi seniman batik. Kendati pertumbuhan batik Trusmi tampak bergerak secara signifikan mulai tahun 2000-an, tak dapat dipungkiri bahwa sejak 2009-lah terjadi puncak ledakan yang sebenarnya.

Ini bisa dilihat dari tumbuhnya showroom-showroom batik yang bermunculan di sepanjang jalan utama Trusmi-Panembahan yang merentang sekira 1,5 km. Pelbagai billboard showroom juga tampak berjejer menghiasi setiap bangunan yang berada di tepian kanan kiri jalan. Dan yang paling kentara dari semua itu tentu: BT Batik Trusmi

(Gerai BT Batik Trusmi/ Dok. Pribadi)


Seperti yang bisa dilansir di laman resmi BT Batik Trusmi, BT Batik Trusmi merupakan showroom terbesar dan terluas di Indonesia dengan produk asli pengrajin batik tradisional. BT Batik Trusmi mengembangkan lini pemasaran usahanya melalui medium internet. Sejak awal, misi utama BT Batik Trusmi tidak melulu hanya sekadar mencari pundi-pundi profit melainkan lebih jauh dari itu: tanggung jawab budaya dengan jalan pelestarian seni batik. Dalam bahasa yang lebih populer, model orientasi bisnis demikian lazim disebut sebagai cultural business mission.

Demi merawat kepercayaan pelanggan, BT Batik Trusmi senantiasa menjaga kualitas produk yang bermutu dengan harga yang ekonomis tanpa harus terjebak pada kesan murahan. Selain itu, BT Batik Trusmi juga senantiasa berorientasi pada kualitas produk ketimbang harga. Sebab bagi BT Batik Trusmi, lebih baik dikomplain hal-ihwal masalah yang berkaitan dengan harga ketimbang musti diprotes perihal kualitas produk. Untuk mengkonkretkan prinsip tersebut BT Batik Trusmi membuat lima jenjang kontrol kualitas dimana setiap jenjang akan menginspeksi secara ketat seperti bahan, pewarnaan, simetrisitas, dan jahitan. 

(Suasana Para Pengunjung di BT Batik Trusmi/ Dok. Pribadi)


Produk BT Batik Trusmi di antaranya adalah busana batik pria, wanita, anak-anak, dan kain batik tradisional dari bahan katun biasa hingga sutra. Lebih detailnya demikian: pria (batik lengan panjang dan lengan pendek), wanita (blus, dress, gamis, outer, rok batik), aksesoris (dompet batik, buku, deterjen batik, scarf), kain printing (sarung, kain panjang, kain panjang eksklusif), kain tulis kombinasi cap (katun, dobi, sutra), batik collection (batik couple, outfit kondangan, outfit ngantor, outfit hangout, outfit batik muslim, batik semi sutra), batik premium (pria dan wanita), set kain batik (kombinasi dobi dan kombinasi embos), dan tentunya motif batik terlaris (megamendung, parang, kawung hingga kontemporer).

Selain gerai ritel, BT Batik Trusmi juga menerima pesanan seragam batik untuk instansi pendidikan, perusahaan, maupun komunitas dengan desain motif dari mereka maupun dari BT Batik Trusmi sendiri. Intinya, BT Batik Trusmi akan senantiasa menggiatkan inovasi secara dinamis baik terhadap produk maupun layanan demi tercapainya kenyamanan pelanggan. Dari segi pelayanan misalnya, BT Batik Trusmi menyediakan beberapa privilege seperti ongkos kirim gratis, kemudahan proses penukaran, konfirmasi pembayaran yang sederhana, promo yang selalu hadir, bus shuttle yang siap antar-jemput gratis, hingga layanan konsultasi (baik offline maupun online) yang senantiasa standby

(Infografi Dok. Pribadi)


Tidak hanya batik sebenarnya. Sebab dalam BT Batik Trusmi pengunjung juga akan dimanjakan dengan aneka furniture properti khas Cirebon, oleh-oleh khas Cirebon, kuliner khas Cirebon, wahana permainan anak, Batik Kitchen, Trupark Museum, dan sebagainya. Motif Megamendung yang awalnya hanya ditemui dalam kain kini bahkan bisa dijumpai dalam pelbagai bentuk. Mulai lukisan kaca, ukiran kayu, hingga sarung bantal, sprei, taplak meja dan lain-lain. Dan ini yang paling menarik, bagi remaja khususnya, BT Batik Trusmi menyediakan banyak sekali stan-stan foto yang menarik, artistik, sarat nilai historis, dan instagramable tentunya.

Di samping hal-hal di atas, BT Batik Trusmi juga melebarkan sayap tanggung jawab moral bisnisnya ke sektor pendidikan dan pelestarian kebudayaan. Dua hal yang disebut terakhir memang sudah sejak lama menjadi komitmen BT Batik Trusmi dalam menjalankan bisnisnya. Dalam pendidikan, BT Batik Trusmi mendirikan Edu-Center yang ditujukan untuk mereka yang hendak belajar batik klasik maupun modern, lukis kaca, topeng dan aneka kesenian Cirebon lainnya. Di Edu-Center juga terdapat display para ibu-ibu pengrajin yang tengah membatik. Dalam lini pelestarian kebudayaan, BT Batik Trusmi juga memiliki sanggar tari di mana para pengunjung bisa berbelanja sembari belajar dan menikmati khasanah kebudayaan Cirebon seperti tari topeng. 


β€œIni merupakan bukti konkret bahwa BT Batik Trusmi tak hanya memikirkan bisnis. Tapi lebih dari itu adalah bersungguh-sungguh dalam menciptakan regenerasi pembatik di masa depan”, ujar Ajeng Sintiyani, kepala divisi even Edu-Center dan Trupark Museum BT Batik Trusmi. Ucapan Ajeng ini memang bukan isapan jempol semata. Sebab, sudah tak terhitung banyaknya pelajar dari Jakarta, Bekasi, Karawang, Tangerang dan pelbagai daerah lain di Indonesia yang datang untuk belajar kebudayaan Cirebon (utamanya batik) ke Edu-Center BT Batik Trusmi

Dari semua uraian di muka kita menjadi mafhum, bahwa BT Batik Trusmi sebenarnya tidak sekadar ritel maupun showroom yang hanya mengejar laba. Lebih dari itu, BT Batik Trusmi merupakan laboratorium budaya di mana di dalamnya terdapat upaya-upaya kreatif dan sistematik dalam hal pelestarian budaya, pendidikan budaya, penciptaan regenerasi berbudaya, dan pemberdayaan pengrajin produk budaya. Sebab bagi BT Batik Trusmi, batik tidak sekadar fashion maupun produk jualan. Sebaliknya, batik adalah nilai budaya yang dilahirkan leluhur untuk kita jaga dan amalkan bersama. BT Batik Trusmi sudah memulainya. Lalu kapan giliran kita?

(Tari Topeng di Sanggar Padepokan BT Batik Trusmi/ Dok. Pribadi)


Satu hal pasti. Percayalah: batik lebih baik. Pokoknya, BTAlways Batik.


====> PS: Semua foto dan video dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi.



Spread the love